Minggu, 10 November 2019

Akhirnya Kembali Menulis

Hampir 7 tahun saya lupa, kalau saya bisa menulis dan mampu menghasilkan tulisan. Sampai kemudian saya memenangi lomba pertama setelah 7 tahun tidak tekun menulis (hanya nulis caption status sosmed).
Dapat Juara II lomba cerpen Fantasi. Senang? iya dong.
Sebagai seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurus rumah, suami, dan dua balita aktif, tanpa bantuan ART, tanpa saudara dan sanak family, diperantauan, kesibukan saya benar-benar full 24jam. Pekerjaan seolah tidak pernah selesai dan berulang bagai lingkaran. Dunia ibu rumah tangga adalah dunia yang keras. Tidak heran banyak kasus Ibu-ibu yang depresi lantaran kurang piknik dan terperangkap dalam rutinitas cadas ibu rumah tangga. Bagi yang tidak siap, silahkan bersiap😁 
Saya dulu termasuk yang kurang bersiap, sehingga suka oleng sesekali😁. 

Hingga suatu hari mata saya terbuka melihat ibu-ibu seperti saya yang bisa meluangkan waktu untuk berkarya di tengah kesibukan mengurus keluarga. Kenapa saya tidak kembali tekun menulis lagi seperti waktu single dulu? jadi ibu-ibu bukan halangan untuk berkarya. Soal waktu? bisa diluangkan kalau ada niat kuat. Namun berkali-kali niat ini gagal lantaran niatnya yang setengah-setengah. 

Lalu niat ini saya sampaikan ke suami, dan dia mau membantu. Biasanya saya luangkan waktu menulis saat tengah malam, saat semua tertidur, agar anak-anak gak ngerecokin ikut pencet-pencet laptop atau rewel minta diajak main. Lalu saat suami libur, saya manfaatkan sebaik mungkin. Anak-anak saya titip suami dulu, dan saya bisa menulis dengan leluasa sampai kelar. Lomba cerpen fantasi yang saya ikuti hingga juara itu saya kerjakan mulai pagi hingga tengah hari, dengan jumlah halaman 16. Saya kebut! karena, jarang dapat waktu kayak gini tiap hari. Jadi saya manfaatin waktu yang ada dengan sebaik mungkin.
Kalo di pressure gitu kayaknya lancar banget nulis. Jadi gak tiap saat juga saya bisa nulis lancar. Contohnya, hari ini suami libur dan handle anak-anak. Tapi jangankan  16 halaman. 1halaman pun belum rampung-rampung.

akhirnya malah nulis celotehan panjang gini.
😁

--©Sketsa Ultra Pelangi--

Pematang Siantar. 10 Nov 2019
Selamat Hari Pahlawan!

Senin, 04 November 2019

Taman Buah yang berubah

Taman Buah yang berubah

Saya sempat tinggal dua tahunan (2015-2017)  di lubuk pakam, Deli serdang. Waktu itu saya males banget kemana-mana karna minim tempat yang asyik buat sekedar berakhir pekan. Ada sih taman buah, lumayanlah buat nongkrong dan makan rujak. Saat itu tempatnya belum di kelola, tukang parkirnya banyak suka rebutan. Cuma ada tukang kebun. Toilet juga selalu di kunci,mgkn takut di kotorin. Tukang jualan masih keliling taman. Tempat bermain anak becek, dan wahananya banyak yg berkarat. 

Alhamdulillah di kasih umur panjang buat singgah bentar ke Taman buah lubuk pakam. Tamannya benar2 bnyak berubah. Lebih bagus tentunya.. Sudah di kelola pemerintah, ada petugas keamanannya, ga da parkir liar.. Ada zona bermain anak yg aman, wahananya bukan lagi besi tua yg berkarat. Indah bagus dan berwarna warni. Anak2 tidak perlu takut terjatuh dan kesakitan, karena ada rumput sintetis yg empuk untuk berguling.
Ah.. kenapa bagusnya pas saya udah pindah sih🙁



#ruangterbukahijau
#tamankota

Rabu, 30 Oktober 2019

Standar Ibu



Setelah artikel seorang ibu membunuh anak kembarnya Tiba-tiba banyak ibu-ibu mengaku pernah /sempat depresi dan merasa berada di situasi serupa. Apakah ini ikut-ikutan atau cuma efek gunung es saja? Sebenarnya bukan 'tiba-tiba' tapi karena momennya pas dan ibu-ibu itu baru berani speak up. Setelah banyak gerakan ibu-ibu yang membuat 'pengakuan' pernah merasa depresi atau hampir depresi lantaran pressure yang diterima sebagai seorang ibu.

 Selama ini mereka belum berani speak up bisa jadi lantaran slogan-slogan heroik yang terlanjur disematkan pada sosok 'ibu' yang kemudian tanpa sadar menjadi semacam 'tuntutan'halus bahwa demikianlah seharusnya. Tuntutan ibu adalah madrasah untuk anak-anaknya, menjadi istri solehah untuk suaminya, menjadi kuat, tidak boleh lemah, tidak boleh sakit, superhero,dll
Belum lagi judge dari sesama ibu-ibu yang menilai ibu lain sesuai standar 'keibuan'nya. Padahal kita lupa  bahwa sosok ibu ini juga manusia dengan segala keterbatasannya. Mereka hanya menjalankan perannya semampu mampunya. Jika kemampuannya tidak bisa memenuhi ekspektasi dunia disekitarnya bukan berarti dia pantas di cela. Dia hanya perlu dikuatkan, dibesarkan hatinya, dan dipeluk.

Semoga berkenan, Maaf jika ada salah kata

Sketsa Ultra Pelangi, 30 oktober 2019

Selasa, 26 April 2016

Iklan WRP dan perut kecucuk Hanger


Bagi yang mengenal saya, saya cukup identik dengan badan kurus dan rada cungkring. Makan sebanyak apapun saya segitu gitu aja. saya pernah curiga kalau jangan-jangan saya cacingan, sehingga susah sekali menambah berat badan. Habis makan obat cacing juga tetep cungkring (obat cacing khusus anak yang rasa jeruk :3 )

waktu kuliah,saya punya kebiasaan naruh barang2 di belakang pintu, baju laundrian sampai baju kotor. sehingga pintu kamar kos rada sempit buat di masuki untuk mereka yang rada tambun, hanya saya yang muat di ccelah pintu sesempit itu, kalau di bayangin kayak iklan WRP gitu deh, bisa nyusup2 gitu badannya. Dan suatu hari kebiasaan ini mencelakakan!

sekarang perut saya membuncit dan badan saya gak se WRP dulu, bukan cacingan lho :3 ini cuma hamil 8 bulan aja.
Saya lupa memindahkan hanger yang saya gantung di gagang pintu, sehingga ketika masuk kamar, saya bermaksud menyingkap korden depan pintu kamar buat disangkut diatas pintu, dengan pedenya masuk kamar dengan gaya WRP saya meloncat cantik sedikit sambil melempar korden keatas ciaaaat, dan saya kesangkut ujung hanger, persis di perut saya. perut saya kecucuk ujung hanger. Rasanya sakit banget sampe nangis guling2, mama saya sampe panik dikira saya mau melahirkan.
saya berkali-kali minta maap sama debay di perut karena jadi mamah random. Saya pun nangis-nangis nge Wa temen yang bidan," perutku kecucuk hanger (T.T) anakku gimana dong, apa dia sakit juga"
"InsyaAllah ga napa2 kok sket, debaynya dilindungi dinding rahim ma ketuban. lagian kamu aneh-aneh sih"

huff Alhamdulillah syukurlah (T-T)

#randomPost
#calonmama

Senin, 11 April 2016

Postingan

Postingan orang lain tidak semestinya menjadikan seperti apa diri kita.

postingan seorang istri yang memposting "kalo ada masalah trus nyungsep kepelukan suami, itu rasanya nyeesss.. sambil mention nama suaminya"
serta merta setelah membacanya, saya yg saat itu jomblo menjadikan itu sebagai semangat untuk mempejuangkan pernghargaan terhadap hati para jomblo yang kemungkinan nelangsa dengan hal-hal berbau kemesraan pasangan di sosmed, saya pun memposting status bijak yang kebetulan nemu di tumblr yg kurang lebih isinya untuk menghargai perasaan mereka yang belum lulus, belum menikah, belum hamil, belum punya anak, memiliki kekurangan fisik, dll agar tidak menjadi perantara kufur nikmat.

Saya jomblo dan merasa aman menuliskannya, saat itu saya menyelipkan niatan saya yang pengen dihargai sebagai orang yg belum lulus dan belum berpasangan. Saya ingin orang-orang berempati terhadap orang-orang seperti saya. Saya menulis dari sisi pandang saya saja, merasa hati ini terdiskriminasi dan perasaan-perasaan melankolis lainnya. Tanpa memikirkan atau mencoba berperasaan pada sisi yang lainnya.

padahal kalau saja saat itu saya mau mereview kembali niat saya. Saya bisa melihat yang dimaksud dengan 'menghargai' itu apa.

orang yang memposting foto wisuda atau foto skripsi yg sudah di jilid.
Dengan orang yang bertanya langsung padamu "kamu kapan lulus? kapan wisuda? skripsimu udah kelar?"
Mereka berbeda, posting wisuda dengan caption ALhamdulillah dan caption bahagia lainnya apakah dia bermaksud mendiskreditkan mereka yang belum lulus? belum tentu juga. Bisa jadi dia ingin berbagi kabar, bahwa dia sudah lulus, ini kabar terbarunya. Kan ada tuh temen yang karena lama ga nongol di sosmed kita jadi ga tau kabar terapdetnya.

orang yang berbagi foto pernikahannya
dengan orang yang bertanya kepadamu "kamu kapan nikah? jomblo aja"
Mereka berbeda, posting foto pernikahan apa berarti dia intoleran terhadap jomblo? ga juga. bisa jadi dia memposting untuk mengharap restu dan doa dari sahabat-sahabatnya.

orang yang posting gambar USG bayinya
dengan orang yang bertanya kepadamu "kapan hamil?"
mereka berbeda, apakah yg posting gambar USG bayi bermaksud ngece mereka yg belum hamil? sepertinya tidak, mereka bisa jadi ingin berbagi kebahagiaan, ingin dapat doa baik. Jika ada yang tersinggung dengan postingan demikian tentunya sangat disayangkan.

orang yang posting gambar aktivitasnya naik gunung turun gunung
memanah berenang dan berkuda
dengan orang yang bilang "kamu kok di rumah aja"
mereka berbeda, postingan aktivitas naik gunung turun gunung berbelok kepantai dan sebagainya tidak seharusnya membuat kita sensi dan merasa mereka pamer.

orang yang posting aktivitas pekerjaannya
dengan orang yang bilang "kamu gak kerja?"

kita bisa lihat perbedaannya. Jika kita tidak sengaja membuat saudara kita kufur nikmat lantaran postingan2 seperti dicontohkan tadi, itu diluar kendali kita. Karena postingan bersifat tak langsung. Tapi kita bisa mengendalikan ucapan langsung pada saudara untuk tidak menanyakan hal-hal yang membuat saudara kita tersinggung.

Jika kita melihat postingan "bahagia" saudara kita kemudian merasa sensi dan tersinggung, segera kita beristigfar dan memperbaiki hati kita, jangan racuni hati dengan dzon yg menjerumuskan diri sendiri pada kufur nikmat lalu menisbatkan postingan saudara kita sebagai penyebabnya. wallahu A'lam

Mendadak random ingat soal blunder penghapusan kolom agama di KTP, lantaran kolom agama dianggap diskriminatif. Padahal semua kolom agama bisa dianggap diskriminatif dan bikin sensi sih, mulai dari tahun lahir,status pernikahan, suku, pekerjaan, dsb.. :3 jadi penting sekali kita mengelola rasa sensi itu agar tidak selalu merasa terdiskriminasi. (o.o)a eh

source: RedMario.com

Jadi ingat juga kisah bapak-anak-keledai. bapak-anak naik keledai lalu di rasani orang-orang kalo mereka tak berperikehewanan. Lalu mereka turun, anak naik keledai dan bapak menuntun lalu dianggap anaknya durhaka karna naik keledai sndiri membiarkan bapaknya nuntun. Gantian bapaknya naik keledai anaknya yg menuntun dianggap bapaknya tega sama anak.
akhirnya mereka berdua tidak naik keledai dan berjalan beriringan menuntun keledai, dianggap ga efisien banget punya keledai tapi ga dimanfaatin. :v serba salah
nyambungnya dimana ya hmm... ya pokoknya gitu deh, kita ga bisa membuat semua orang didunia bahagia dengan tindakan kita, akan selalu ada hal-hal yang tidak memuaskan di mata orang-orang. Wallahu a'lam

mohon maaf lahir batin bila ada kata/kalimat yang kurang berkenan, tidak bermaksud membuat saudara sekalian tersinggung. suer!
salam damai v(o.o')v
@sketsapelangi





Curcol dikit

Dulu sebelum kenal instagram , saya nulis statusnya di blog hehehe setelah dipikir-pikir emang nyaman sih nulis status di blog, apalagi u...