Minggu, 08 Juni 2014

in progress


P e lestari a n




"Pelestarian merupakan proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang ada terpelihara dengan baik sesuai situasi dan kondisi setempat"
 (The Burra Charter, 1981)


Bicara soal pelestarian, saya jadi teringat opini temen yang menganggap bahwa arsitektur nusantara itu senantiasa berkembang dan berubah jadi tidak relevan jika kita melarang mereka untuk merubah atau memodifikasi huniannya, tidak adil jika dunia berubah sementara mereka tetap stag

okay..
waktu itu saya diam mencerna tidak berusaha mendebat karena opini itu tdak sepenuhnya salah. Namun dalam konteks pelestarian, ada pengecualian. Hunian yang mempertahankan arsitektur lokalnya kenapa harus kita paksa dan biarkan berubah sementara mereka susah payah mempertahankan diri dari ekspansi modernisasi yang hedonistik. Ini untuk kasus perkampungan yang masih mempertahankan arsitektur lokalnya seperti Kampung Naga di tasikmalaya, Kampung tradisional di Tana Toraja, Kampung Dukuh, dan banyak lagi kampung tradisional yang memilih untuk bertahan di tengah arus perubahan sementara kampung-kampung lain memilih untuk ikut perubahan. Kampung-kampung yang berjuang dan bertahan ini wajib hukumnya untuk di dukung penuh, bukannya justru menawari mereka untuk berubah dan meninggalkan tradisi. Masyarakat kampung ini menganggap bahwa bertahan bukan sekedar tradisi atau budaya tapi semacam aktivitas suci, dan kita sebagai orang luar (kerap kali) sok tahu dan sok benar menganggap mereka sebagai kaum terbelakang yang butuh sentuhan pembangunan. Padahal yang mereka butuhkan adalah dukungan agar tradisi mereka tetap lestari bukannya malah membuat mereka murtad (red: meninggalkan tradisi).

Salah satu permukiman tradisional di Tana Toraja (Source Image : Inilah.com)




Lalu bagaimana dengan masyarakat yang ingin berubah tanpa di stimulus pihak luar ?
maka saatnya peran kita di perlukan disini, mereka perlu di edukasi tentang urgensi pelestarian, jika edukasi ini tidak bisa menyentuh mereka tentang urgensi melestarikan, setidaknya mereka masih mempertahankan konsep ataupun prinsip tradisi huniannya, jadi meskipun material fisik berubah namun konsep masih di pertahankan. Sedikit maksa ya ? haha ya namanya kebijakan perlu dipaksa, kalo tidak dipaksa aplikasinya tidak bisa berjalan.

Apa saja manfaat pelestarian? Ada beberapa manfaat pelestarian menurut Budiharjo :
  • Memperkaya pengalaman visual
  • Memberi suasana permanen yang  menyegarkan
  • Memberi keamanan psikologis
  • Mewariskan arsitektur

Dari manfaat tersebut bisa kita bayangkan jika arsitektur lokal yang nusantara miliki ini dibiarkan hilang berubah bentuk (seperti operasi plastik gitu), maka kita akan kehilangan jejak (pangling) peradaban, kehilangan bukti fisik bahwa masyarakat kita pernah punya peradaban arsitektur yang mengagumkan, generasi selanjutnya cuma bisa menikmati lewat foto saja itupun kalo sempat di dokumentasikan, kalau tidak, ya bye bye dah. Jadi mirip cerita sebuah bangsa yang gemar berkisah tentang betapa hebatnya mereka di masa lampau, tapi minim bukti fisik sehingga terdengar lebih mirip fiksi.
Kota yang baik adalah kota yang memiliki keberlanjutan tahapan pembangunan, dengan keberlanjutan tahapan tersebut, sejarah pembentukan kota dapat dinikmati. Tahapan keberlanjutan tersebut pada dasarnya berupa kawasan-kawasan bersejarah yang pembentukannya cenderung berurutan, yang selanjutnya menjadikan kota sebagai lintasan cerita yang dapat dilihat dan dirasakan berupa arsitektur kota (urban architecture). Jadi kampung-kampung dengan arsitektur lokal tidak perlu di paksa berubah, tapi di fasilitasi dan di dukung untuk lestari.

Tulisan ini bukan berarti saya anti dengan pembangunan, tidak sama sekali. Pembangunan kan tidak melulu soal perubahan fisik, pembangunan bisa dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian, memfasilitasi dan mendukung mereka dalam upaya melestarikan baik dalam bentuk program maupun materi.
Makanya saya kurang setuju dengan gencar-gencarnya promosi wisata terhadap kampung-kampung etnik tradisional tanpa mempersiapkan mereka terlebih dahulu, pembangunan besar-besaran yang tidak terkonsep menuju kampung. Alih-alih promosi wisata, malah mengikis kearifan lokal yang mereka miliki. Wallahu Alam 

Salam pelestarian !

celoteh Sketsa 8 juni 2014



Meminta Maaf



Mungkin diantara kita ada yang tidak terbiasa meminta maaf, baik itu perkara besar maupun kecil, karena tidak terbiasa, lama-lama menjadi semacam gengsi untuk meminta maaf. Yang namanya manusia setiap saat ada salah, yang mengerikan jika kita ngerasa ga pernah ada salah dengan manusia, termasuk dalam candaan. Tanpa kita sadari bisa jadi dalam candaan yang kita bawakan terselip kata yang tidak mengenakkan saudara kita, mungkin saudara kita itu mendiamkannya, tapi di balik diamnya bisa jadi dia tidak nyaman dan tidak enak hati. Hal-hal seperti inilah yang perlu kita hati-hati, dan disinilah gunanya di ciptakan kata "maaf" dan menyampaikan "minta maaf"

ilustrasi via nyunyu.com

“Tuhanku memerintahkanku Sembilan perkara :
  1. ikhlas di saat sendirian dan di keramaian,
  2. tetap adil dalam keadaan ridha atau pun saat marah,
  3. sederhana di saat kaya dan miskin,
  4. memaafkan orang yang menzhalimiku,
  5. menyambung orang yang memutus tali persaudaraan denganku,
  6. memberi orang yang tidak mau memberiku, dan
  7. agar diamku adalah berpikir
  8. Bicaraku dzikir dan
  9. pandanganku ibadah (pelajaran)”.
 (H.R. Ibnu Al-Athsir).


Curcol dikit

Dulu sebelum kenal instagram , saya nulis statusnya di blog hehehe setelah dipikir-pikir emang nyaman sih nulis status di blog, apalagi u...